Echoes of Yesterday

Echoes of Yesterday

  • WpView
    Reads 16,389
  • WpVote
    Votes 2,080
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadComplete Sun, Jan 4, 2026
Ketika masa lalu yang kau kira sudah terkubur, tiba-tiba berdiri di hadapanmu dengan senyum yang sama, dan anak berusia lima tahun di sampingnya. Naureen mengira dia sudah move on. Mengira luka itu sudah sembuh. Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Farzan-mantan kekasih yang pergi dengan alasan kuliah, tapi ternyata menikah dengan wanita lain. Lima tahun berlalu. Tapi rasa sakit itu? Masih sama pedasnya. Sebuah cerita tentang cinta yang tertunda, kebenaran yang terlambat, dan hati yang belajar untuk merelakan atau mungkin, berjuang kembali.
All Rights Reserved
#145
nicolerossi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Sparks Between Silence"
  • Elegance in Leadership
  • Destiny (ON HOLD)
  • HATE BUT LOVE (fatzar/fatnic)
  • Langford Academy
  • The Captain's iceberg (END)
  • Selasar Kelam
  • Memilih Dia
  • The Xeraphyne Choice's
  • Istri Polos Seorang Ketua Geng

> Kadang, yang paling berisik di kepala justru bukan suara orang lain-tapi pikiran sendiri. Fathan dulu pikir, diam itu berarti tidak peduli. Bahwa orang yang tak menatap mata berarti tak mau melihat. Tapi waktu mempertemukannya dengan Rose, dia belajar... diam juga bisa bicara. Hanya saja, bahasanya berbeda. Sementara bagi Rose, orang yang terlalu berisik seperti Fathan hanya membawa ribut, padahal diam adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk tidak terluka. Tapi lama-lama, ribut itu terasa hangat. Mereka tak tahu kapan mulai saling melihat-mungkin di hari ketika Fathan berhenti marah, atau ketika Rose berhenti bersembunyi. Yang mereka tahu, cinta pertama tak datang dengan naskah. Ia datang dalam bentuk salah paham, tatapan singkat di lorong sekolah, dan pesan yang diketik lalu dihapus sepuluh kali. Dan di tengah semua keheningan dan kebisingan itu... dua hati belajar berbicara dengan cara mereka sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines