Pengabdian penuh cinta yang justru melukai diri sendiri.
.
Cinta seharusnya menjadi tempat pulang, bukan ruang penghakiman.
Namun bagiku, cinta lahir bersamaan dengan luka, dibungkus rapi dalam nama keluarga, diserahkan sebagai kewajiban, bukan pilihan.
Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa mengalah adalah bentuk paling suci dari kasih, dan diam adalah cara paling aman untuk tetap dicintai.
Mereka menyebutnya pengorbanan.
Aku menyebutnya kehilangan diri. Setiap ketidakadilan selalu punya alasan yang terdengar mulia, setiap keberpihakan selalu dibungkus kalimat "demi kebaikan bersama." Aku belajar mencintai tanpa pernah benar-benar dipilih, setia tanpa pernah diperjuangkan.
Dan anehnya, aku tetap bertahan, seolah rasa sakit adalah harga yang pantas dibayar untuk sebuah pengakuan yang tak pernah datang.
Cinta yang kupeluk terlalu erat berubah menjadi belenggu. Kesetiaan yang kupertahankan menjelma pisau bermata dua: melukai mereka yang kuharapkan, dan lebih kejam lagi-melukai diriku sendiri.
Di sanalah aku menyadari, pengabdian yang dipaksakan tak pernah suci. Ia kejam karena menuntut segalanya, tapi tak memberi apa pun selain harapan palsu.
Kini aku berdiri di batas yang tak pernah diajarkan padaku: memilih diri sendiri. Dan jika cinta harus menuntut balasan atas semua yang direnggut, maka biarlah dunia menyebutnya dendam. Aku menyebutnya keadilan.
Sierra Thana Melantha.
||FOLLOW SEBELUM BACA!!!||
"Ini kamar aku, nggak boleh nyelonong masuk tanpa izin" tegas Ala, kesal karena ruang pribadinya diakses tanpa seizinnya.
Kai menutup pintu, mendekat ke arah Ala yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Ih, jangan naik" larangan Ala lagi-lagi diabaikan oleh pria itu.
Ala memberenggut kesal, pria kaku itu bahkan sudah bergabung di bawah selimut yang ia pakai.
"Sejak kapan suami istri punya kamar sendiri-sendiri?" bisik Kai tepat di belakang telinga Ala.
Ala merinding kegelian karena hangat hembusan nafas Kai.
"Sejak sekarang" pekik Ala begitu berhasil melarikan diri dari dekapan Kai. Dia berlari ke luar kamar, meninggalkan Kai yang tertawa puas setelah berhasil menggoda dirinya.
Masih terasa jejak usapan tangan Kai di perutnya tadi. Ala khawatir, apakah pria itu sudah tahu?
***
Cerita ini tentang dua sejoli yang hidup bertetangga namun tidak saling mengenal. Mereka bertemu karena sebuah insiden, hingga akhirnya semakin dekat dan mulai nakal tipis-tipis 🔞
⚠️⚠️⚠️
Terdapat beberapa konten dewasa eksplisit dan kata-kata vulgar, silahkan skip jika tidak berkenan. Bijaklah memilih bacaan.
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN KARENA BACA CERITA INI GRATIS.
JANGAN JADI SILENT READER!