Dierga tahu benar bahwa mencintai Viola adalah cara paling cepat untuk menghancurkan diri sendiri. Baginya, hubungan mereka seperti garis paralel yang dipaksa bersinggungan tampak indah di satu titik, tapi mustahil untuk menyatu selamanya. Dierga tidak berani berharap besar. dia sudah menyiapkan payung bahkan sebelum awan mendung itu datang, karena dia tahu, konsekuensi dari perbedaan mereka adalah luka yang sudah terencana.
Tapi bagi Viola, mencintai Dierga adalah urusan hari ini. Dia tidak peduli seberapa tinggi tembok yang Dierga bangun, atau seberapa sering cowok itu mencoba mendorongnya menjauh.
Bagi Viola, "bodo amat" adalah senjatanya. Selama dia masih bisa menggenggam tangan Dierga, dia tidak akan peduli pada jurang di depan sana.
Namun, saat sebuah nama dari masa lalu datang membawa restu dan keyakinan yang sama, pertahanan "bodo amat" milik Viola mulai retak. apakah tetap tinggal adalah perjuangan, atau justru bentuk paling jahat dari menyakiti diri sendiri?
"La, stop jadi orang baik. gue ga bisa kasih apa-apa di ujung jalan ini."
"siapa yang minta ujung jalan? gue cuma minta hari ini, Dierga."
All Rights Reserved