8 bab Bersambung Dinikahi oleh bocah? Itu bukan hadiah yang ku inginkan!!
Aku masih cukup muda-meski umurku sudah berkepala dua. Dua puluh tiga tahun, mahasiswa semester empat, dengan hidup yang menurutku sudah cukup sempurna. Aku bisa menghasilkan uang sendiri dari novel-novel yang kutulis, punya mimpi, dan tak pernah merasa membutuhkan seseorang untuk melengkapiku.
Sayangnya, orang tuaku berpikir sebaliknya.
Dengan alasan nama besar keluarga, aku dipaksa menerima perjodohan yang bahkan sudah ditentukan sejak aku kecil. Aku pikir aku akan menikah dengan orang yang tenang, dan rasional. Seperti tokoh-tokoh yang sering kutulis di novelku sendiri.
Tapi kenyataannya jauh dari itu.
Aku justru dinikahkan dengan seorang laki-laki yang bahkan belum lulus SMA.
Awalnya aku ingin menolak mentah-mentah. Hingga aku melihat wajahnya. Sikapnya yang sopan. Senyumnya yang hangat. Cara bicaranya yang terdengar tulus, dan juga pertemuan singkat kami di cafe pusat kota malam itu.
Aku tak tahu seperti apa kepribadiannya sebenarnya. Tapi sejauh ini, dia terlihat... baik.
Atau setidaknya, itulah yang ingin ia perlihatkan.