ada luka yang tak berdarah, tapi terus nyeri setiap harinya
ada sakit yang tak bersuara, namun selau berisik dikepala
ia tumbuh dalam rumah yang disebut" tempat pulang", namun tak benar-benar menjadi rumah. Tertawa hanya topeng, kuat hanyalah kebiasaan. Setiap malem ia belajar berdamai dengan sepi, dan setiap pagi ia kembali berpura-pura baik-baik saja.
cerita ini bukan tentang siapa yang paling terluka, melainkan seseorang yang terus berjalan meski hatinya tertinggal dimasalalu. Tentang memaafkan yang tak pernah tuntas, yang merindukan hal-hal yang harus dimiliki, namun tak pernah diberikan.
karna ada luka yang tidak sembuh oleh waktu-
ia hanya belajar hidup bersama rasa sakitnya.
Todos os Direitos Reservados