Dijodohin Dosen

Dijodohin Dosen

  • WpView
    Reads 56,290
  • WpVote
    Votes 2,970
  • WpPart
    Parts 48
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 22, 2026
CERITA INI GILA, JADI JANGAN BACA KALAU GAK MAU GILA. -KAMU NGEJAR SKRIPSI, SAYA NGEJAR KAMU.- "Zara, saya ingin membicarakan sesuatu." Airlangga terlihat serius, bahkan ia sudah tak memegang dokumen lagi. Ia meletakkan dokumen tersebut di meja. Ia mulai menatap Zara sambil melipat tangannya di meja. "Bicara apa, Pak? Skripsi saya ada yang salah?" Zara mendesah, lagi-lagi skripsinya dipenuhi revisi. Harus sampai kapan ia salah. Padahal hampir setengah teman kelasnya sudah seminar proposal. Kenapa takdir tidak adil padanya. Ia iri dengan yang lain karena dipermudah jalannya. "Bukan tentang skripsi." "Maksud bapak?" Zara tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Airlangga. Apa yang akan mereka bahas kalau bukan skripsi? "Ini soal perjodohan kita."
All Rights Reserved
#50
romantis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Define the Relationship
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Almost Married (On Going)
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • NINGRUM
  • EKSKALASI
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines