"Jakarta bukan sekadar kota, ia adalah rimba beton yang mampu menelan mimpi-mimpi kecil tanpa sisa."
Bagi Ayla Ishella Maiyretta, hidup adalah serangkaian kehilangan. Setelah Dermaga hatinya-sang Ibu-berpulang ke keabadian, Ayla terlempar ke kerasnya ibu kota hanya dengan satu kompas di hatinya: menemukan Sangkerta, ayah yang belum pernah ia dekap. Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Ayla justru "terlahir kembali" di tengah kemewahan keluarga Aksagantara, tempat di mana marmer yang mengilap terasa lebih dingin daripada aspal jalanan.
Di sana, ia bukanlah seorang putri. Bagi Christy Marsha Ale, Ayla hanyalah "sampah jalanan" yang dipungut dari debu, sebuah noda yang lancang menempati ruang kenangan milik adiknya yang telah tiada. Setiap hari adalah medan tempur bagi Ayla, antara mempertahankan harga diri atau menyerah pada hinaan yang terus menghujam.
Namun, di antara kebisingan Jakarta, semesta mempertemukan Ayla dengan jiwa-jiwa yang terluka. Tiga Vektor Angkaragel, pemuda yang ia temui di gerbong kereta sunyi, yang mengajarinya bahwa cinta bisa tumbuh di sela-sela retakan luka.Cakrawala Salib Selatan, sosok "Rawala" yang hadir seperti angin sore di tepi danau-menawarkan kedamaian yang membuat hati Ayla goyah di antara dua kutub.
Bersama Nayya, Evan, dan Azam, Ayla mencoba merajut kembali serpihan hidupnya. Di kota yang menuntut kesempurnaan ini, mampukah Ayla menemukan jejak ayahnya sebelum jiwanya habis dikikis oleh kebencian dunia? Dan siapakah yang akhirnya menjadi pelabuhan terakhir bagi hatinya yang lelah: Sang Badai yang penuh luka, atau Sang Cakrawala yang menawarkan ketenangan?
Sebuah kisah tentang pencarian identitas, perihnya pengkhianatan, dan keberanian untuk mencintai di tengah dunia yang tak lagi ramah.
All Rights Reserved