Prediksi soal si miskin tak akan memiliki apapun untuk dimakan kecuali si kaya, benar terjadi.
Selama 10 tahun sejak Indonesia dikatakan sedang tidak baik-baik saja, semuanya memburuk. Yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Yang dinamakan kelas menengah sudah mati. Hanya dalam hitungan tahun saja angka kemiskinan melonjak pesat. Tentu saja ini diiringi oleh kriminalitas. Di antara semua kasus kejahatan itu, mulai bermunculan kelompok yang melakukan hal-hal ekstrim.
Taruka adalah salah satu intel negara yang ditugaskan untuk memecahkan kasus tersebut. Konglomerat menjadi target, tetapi ia tiba-tiba ditendang dari misi tersebut setelah pengeboman terjadi dan memakan banyak korban tak bersalah. Dengan putus asa, ia mengajak seorang anak kecil yang juga korban untuk berpetualang mencari pelakunya dan mencegah jatuhnya korban selanjutnya. Karena pada kondisi seperti ini, tidak akan ada yang berubah kecuali mengantisipasinya.
"Om Taka, kapan aku bisa ikut beraksi? Aku harus ikut biar bisa cepat ketemu Ibu lagi!"
Pertanyaan si kecil membuat Taruka justru mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah keputusannya untuk melibatkan anak ini adalah hal yang benar? Akankah dia menjadi sumber kekuatannya atau justru titik lemah Taruka?
***
PERINGATAN!!! Cerita ini mengandung adegan kekerasan, pengeboman, terorisme, penggunaan benda tajam, dan sebagainya. Segera berhenti membaca jika membuat tidak nyaman!
AKAN MULAI DIRILIS TAHUN DEPAN DENGAN JADWAL PUBLISH MENYUSUL DI INSTAGRAM @MEMOARMUARA
All Rights Reserved