Becky dan Freen hidup dalam sebuah hubungan persahabatan. Di mata orang-orang, mereka hanyalah sahabat-dekat, akrab, dan tak terpisahkan. Namun di balik tawa dan kebersamaan itu, ada rasa yang dipendam oleh dua hati yang sama-sama takut mengakuinya.
Freen memilih jujur pada dirinya sendiri. Ia tidak menyangkal perasaan yang tumbuh, tidak juga memamerkannya pada dunia. Cintanya cukup ia akui dalam diam, cukup ia pahami sendiri, tanpa tuntutan dan tanpa janji.
Berbeda dengan Freen, Becky berusaha keras menolak setiap getar yang muncul di dadanya. Ia menyangkal rasa itu dengan sikap, menutupinya dengan kecemburuan dan posesivitas yang perlahan berubah menjadi luka. Becky tidak ingin mengakui perasaannya-bahkan pada dirinya sendiri.
Freen selalu memaklumi. Ia menerima setiap batas yang kabur, setiap sikap yang menyakitkan, karena ia tahu Becky sedang berperang dengan hatinya sendiri.
Namun waktu tidak pernah ramah pada hubungan yang berjalan tanpa kejujuran. Perlahan, kedekatan mereka berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Hubungan yang dulu hangat mulai terasa hambar, dan rasa yang tak pernah diucapkan menjelma menjadi racun yang menggerogoti keduanya.
Sampai akhirnya, mereka harus berhadapan dengan satu pertanyaan paling menyakitkan:
apakah cinta yang dipendam layak dipertahankan, jika yang tersisa hanyalah hubungan yang semakin toxic?
All Rights Reserved