Where December Learns to Remember the Rain

Where December Learns to Remember the Rain

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 1, 2026
Hujan tak pernah lupa bagaimana caranya jatuh, sama seperti masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. ♪ ♪ ♪ ♪ Hayyyy... aku kembali, dengan cerita baru, aku lagi ketagihan bikin genre romance, jadi maaf yahhh... mungkin untuk sementara genre lainnya, akan aku pause. Cerita kali ini, masih tentang Desember, tapi dengan nuansa yang berbeda, silahkan mampir kalau penasaran, kalau gak juga silahkan pergi, aku gak maksa kalian untuk tinggal, karena aku tau, cerita yang baik, adalah yang tidak memaksa seseorang untuk membacanya, tapi justru-adalah cerita yang menarik perhatian orang untuk membacanya, meski dia hanya diam. Have fun Voicyy✨ • • • • Start Nulis: 30 Desember 2025 Start Publish: 12 Maret 2026
All Rights Reserved
#5
norwegia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines