Chemistry Error | SEAKEEN

Chemistry Error | SEAKEEN

  • WpView
    Reads 73
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 28, 2026
"Sekarang lo bebas, Sak." Keenan menatap sosok lelaki itu dari kejauhan. Ia rasa, memang dirinyalah yang berlebihan terhadap Saka. 'Jadi sebenarnya gue yang berlebihan, atau emang lo yang nggak bisa berubah, Sak?' batin Keenan sebelum membuang muka dan melangkah pergi. "Keenan! Sini deh, lo harus tahu ini!" teriak Faja dari kejauhan. Keenan menghampiri Faja yang tampak heboh sendiri. "Apaan sih teriak-teriak? Penting banget?" Faja segera menyodorkan layar ponselnya. "Saka Decharata dari Teknik Informatika terancam DO?" gumam Keenan pelan. Ia menghela napas panjang. Benar-benar lelah dengan sikap lelaki yang membentaknya beberapa hari lalu. "Buat kali ini aja, Ja, gue nggak mau peduli lagi. Gue kira bakal berhasil ngerubah dia. Di semester empat dia mulai nurut, bahkan buat pertama kalinya dia minta maaf karena kasar pas main game. Tapi semester ini... gue ngerasa cuma dimainin perasaannya. Capek, Ja. Kecewa." "Tapi lo yang mulai semuanya, Nan," Faja berusaha meyakinkan. "Tahu, Ja. Tapi gue mau dia bebas setelah gue hadir di hidupnya. Gue mau dia ngerti kalau sama gue, semuanya jauh lebih baik. Selama ini gue udah sering bilang kalau gue nggak suka, tapi tetep dilakuin. Jadi, biarin kali ini dia ngerasain gimana rasanya gue nggak ada lagi buat nanyain hal itu."
All Rights Reserved
#26
keen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines