Leisha tumbuh di rumah yang perlahan kehilangan suara tawa.
Dindingnya masih berdiri, tetapi hangatnya runtuh satu per satu.
Di antara pertengkaran yang tak pernah selesai dan keheningan yang menyakitkan,
ia belajar menjadi kuat-bukan karena ingin,
melainkan karena tak ada pilihan lain.
Sebagai remaja, Leisha memikul luka yang tak terlihat:
rindu akan keluarga yang utuh,
takut pada hari esok,
dan harapan kecil yang hampir padam setiap kali cobaan datang menghantam hidupnya.
Sekolah menuntutnya tetap tersenyum,
sementara rumah mengajarkannya bertahan dalam diam.
Cobaan datang tanpa jeda-
kehilangan, kesepian, kegagalan, dan pertanyaan tentang nilai dirinya sendiri.
Namun di balik retakan itu, Leisha menemukan sesuatu yang tak pernah diajarkan siapa pun:
bahwa hati yang terluka masih bisa memilih untuk hidup,
dan jiwa yang hampir menyerah tetap pantas untuk berharap.
Pada akhirnya, bukan Leisha yang hancur-
melainkan dunia di sekelilingnya yang benar-benar runtuh.
Saat orang tuanya akhirnya berhenti bertengkar,
itu bukan karena saling memahami,
melainkan karena sudah tak ada lagi yang ingin dipertahankan.
Perceraian datang seperti hujan abu-
tenang, dingin, dan mematikan sisa-sisa hangat yang pernah ada.
Leisha harus pergi.
Meninggalkan rumah.
Ironisnya, justru saat Leisha pergi,
orang tuanya mulai menyadari apa yang hilang.
Namun penyesalan selalu datang terlambat-
ia tidak bisa mengejar kereta yang sudah berjalan.
Leisha tidak mati.
Ia hidup.
Dan itulah tragedinya.
Ia tumbuh dengan luka yang tak pernah diberi nama,
menjadi dewasa tanpa pernah benar-benar sembuh,
membawa kenangan tentang keluarga yang gagal
seperti bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun ia melangkah.
Beberapa anak tidak hancur karena kekerasan,
melainkan karena terlalu lama tidak diperjuangkan.
All Rights Reserved