Draxen Valezcar
Draxen bukan pria yang perlu mengangkat suara untuk ditakuti. Kehadirannya saja sudah cukup membuat ruangan menahan napas. Tubuhnya tegap, geraknya tenang dan terukur, seolah setiap langkah telah diputuskan jauh sebelum ia melangkah. Mata hitamnya kosong-bukan karena tak memiliki emosi, melainkan karena emosi itu telah lama dikubur dan digantikan oleh perhitungan dingin.
Ia tidak kejam karena marah, dan tidak membunuh karena kehilangan kendali. Kekerasan baginya hanyalah alat, sama netralnya dengan pena di tangan seorang akuntan. Tidak ada kenikmatan, tidak ada penyesalan. Hanya kebutuhan untuk menegakkan tatanan yang ia yakini.
Kesetiaan adalah mata uang tunggal dalam hidupnya. Sekali dikhianati, seseorang berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi contoh. Draxen tidak memperingatkan dua kali-ia mengajarkan melalui konsekuensi.
Di balik jas hitam dan sikapnya yang terkendali, Draxen membawa masa lalu yang tak pernah ia sebut: kehilangan yang membentuk keyakinannya bahwa dunia tidak pernah aman, dan bahwa kekuasaan adalah satu-satunya bentuk perlindungan yang nyata. Ia tidak percaya pada harapan, tidak pada Tuhan, dan tidak pada janji.
Bagi musuh, Draxen adalah akhir yang datang perlahan.
Bagi orang-orangnya, ia adalah pelindung yang tak mengenal belas kasihan.
Dan bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seseorang yang terus berjalan ke depan-karena berhenti berarti harus mengingat.
All Rights Reserved