"Bang, itu suara berisik apa dibawah?" Juna menoleh pada Mahesa, bertanya polos.
Mendengarnya, Hesa dan Javian saling tatap, tidak bisa menjawab pertanyaan adik bungsu mereka. Sementara suara teriakan marah dan lemparan barang-barang kembali terdengar. Juna meringis mendengarnya, kaget.
Melihat dua kakaknya tidak bisa menjawab, Jidan memeluk adiknya, bilang. "Juna jangan takut, itu cuma suara piring jatuh. Mungkin kesenggol."
"Tapi kenapa Ayah sama Ibu teriak-teriak?" Juna menoleh.
"Ayah sama Ibu lagi gak baik-baik aja. Tapi nanti mereka pasti baikan kok. Juna jangan turun ya. Kalau mau apa-apa dibawah bilang Bang Jidan. Nanti Bang Jidan ambilin." ujar Jidan menenangkan.
Hesa dan Javian hanya menghela napas pelan.
***
Sementara itu di rumah lain.
"Bang, Ayah Ibunya Juna kenapa ya?" tanya Saka pada kakaknya. Dia sedang berusaha tidur di atas kasur butut, meringkuk kedinginan. Merapat ke tembok.
"Gak usah mikirin urusan rumah orang. Tidur aja." jawab Satria sambil metupi matanya dengan tangan.
Saka terdiam, kembali menatap atap yang berlubang. Untung malam ini tidak hujan. Kalau hujan, bisa repot karena atapnya bocor.
"Kira-kira Ayah Ibu lagi ngapain ya, Bang?" ujar Saka tiba-tiba.
Satria terdiam. Jarang sekali Saka bertanya begitu.
"Saka kangen." ujarnya pelan.
Satria menghela napas, menoleh menatap adiknya. "Iya, besok kita ke makam ya."
***
Dan rumah terakhir.
"Mamah, besok pulang sekolah Neo beli eskrim boleh gak?" tanya seorang anak seusia Juna dan Saka.
"Beli eskrim terus. Nanti kamu pilek, gak masuk sekolah lagi." ujar Ibunya yang bersiap tidur di sebelahnya.
"Nggak, Mah. Kan Mamah bilang kalau sedikit boleh." bujuk Neo.
"Kamu udah beli eskrim tiga hari berturut-turut, Neo. Besok cari jajanan lain. Mamah gak kasih." ujar Ibunya tegas.
Neo cemberut, merubah skenario hendak izin ke Ayahnya. Membalik badan, menghadap Ayah. Eh?
Yaah, sudah tidur. Neo cemberut, memutuskan ikut tidur.
All Rights Reserved