DIAM-DIAM PALING SETIA

DIAM-DIAM PALING SETIA

  • WpView
    Reads 980
  • WpVote
    Votes 632
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Mar 6, 2026
Elan Chou mencintai sahabatnya sejak kecil-tanpa pernah berani mengatakannya. Bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu takut kehilangan. Saat Elisha Yuan pergi kuliah ke Guangzhou dan jatuh ke pelukan pria lain, Elan memilih tetap tinggal... sebagai tempat pulang, tempat bercerita, dan tempat mengadu rindu. Ia selalu ada-di layar ponsel, di ujung telepon, di kota lain-tanpa pernah meminta apa pun. Namun ketika jarak berakhir dan perasaan orang lain mulai mendekati Elisha, Elan dihadapkan pada satu pilihan paling menakutkan: tetap diam... atau akhirnya jujur. Karena tidak semua cinta pergi. Sebagian hanya terlalu lama menunggu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Almost Married (On Going)
  • EKSKALASI
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • NINGRUM
  • Nakula
  • Define the Relationship

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines