Rumah itu berdiri di suatu komplek di tengah Kota Jakarta, di antara rumah-rumah lain-tidak mewah, tidak pula sederhana. Catnya mulai kusam di beberapa sudut, tapi cukup layak untuk disebut tempat pulang. Di dalamnya tinggal empat remaja yang tumbuh hampir tanpa suara orang tua.
Dua yang tertua adalah laki-laki. Terlalu tenang, terlalu siap, seolah dewasa datang lebih cepat dari seharusnya. Mereka jarang bicara, lebih sering berjaga. Selalu berdiri paling depan saat ada masalah, selalu memastikan adik-adiknya aman-meski perhatian itu dibungkus gengsi dan diam.
Dua adik perempuan mereka kembar, masih SMA. Cantik, cuek, dan terbiasa bersama. Kebersamaan itu tak pernah benar-benar renggang... hampir-hanya berubah sunyi. Mereka belajar menyimpan rasa peduli, karena menunjukkannya terlalu jelas terasa seperti kelemahan.
Ayah dan Ibu mereka jarang pulang. Uang selalu ada, tak pernah telat transfer, kabar kadang muncul. Tapi kehadiran tidak. Sejak dini, keempatnya dipaksa memahami ketidakpastian-tentang pulang yang tak pernah bisa dijanjikan.
Hari-hari berjalan. Jarak tumbuh pelan dan makin terbentang jelas. Mereka tinggal di rumah yang sama, tapi membawa beban masing-masing. Konflik sering muncul, kata-kata makin sedikit. Namun saat satu menghilang terlalu lama, yang lain pasti mencari. Saat satu terluka, yang lain terjaga lebih lama, tanpa pernah mengaku.
Tentang orang tua, pembicaraan itu hampir selalu berakhir dengan diam. Mereka tahu semua orang tua bekerja. Tapi mereka juga tahu-tidak semua memilih untuk absen, dan dalam benaknya, mereka menanam pikiran bahwa Ayah dan Ibu mereka tidak bijak dalam mengelola waktu.
Di rumah itu, mereka tumbuh setengah bersama, setengah sendiri.
Saling menjaga dari kejauhan.
Karena itulah satu-satunya bentuk kehadiran yang tersisa.
All Rights Reserved