Laut Biru

Laut Biru

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 4, 2026
Disclaimer: Cerita ini berisi konten GL (Girls Love). Bagi yang tidak berkenan, harap bijak dalam memilih bacaan. Read at your own risk." ~LAUTBIRU~ Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan biru yang tak berujung. Laut biru bukan sekadar warna, ia adalah simbol ketenangan, tempat di mana riuh rendah dunia tenggelam dalam harmoni deburan ombak dan semilir angin. Ia berdiri di tepian dunia, mematung di antara deburan ombak yang tak henti menyapa karang. Dengan gaun biru yang berkibar tertiup angin, perempuan itu mengangkat tangannya ke arah cakrawala, seolah sedang mengirimkan sinyal rindu kepada langit. Di matanya, laut biru yang luas bukan sekadar pemandangan, melainkan sebuah jalan pulang yang ia harap akan segera membawa kekasihnya kembali. Sambil mendekap bunga-bunga jingga dan sebuah buku kenangan, ia terus menatap titik terjauh di mana air dan langit bertemu. Setiap riak kecil yang berkilau diterpa cahaya ia anggap sebagai pertanda, sebuah keajaiban yang mungkin saja akan mewujudkan doa-doanya. Ia tetap di sana, setia menunggu saat di mana sosok yang dicintainya muncul dari balik garis horisontal, berjalan melintasi air, dan kembali pulang ke dalam pelukannya yang telah lama merindu. Riau, 1 Januari 2026.
All Rights Reserved
#119
keajaiban
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines