Di usia ketika sebagian orang sibuk jatuh cinta, aku justru sibuk bertanya: apa gunanya percaya pada sesuatu yang sering berakhir mengecewakan?
Di kepalaku, hidup adalah soal logika dan bertahan. Aku belajar menekan perasaan, menunda harapan, dan menganggap semua itu sebagai bagian dari proses menjadi dewasa. Bagiku, tidak berharap berarti tidak kecewa.
Namun satu tahun terakhir menjelang kelulusan Sekolah Menengah Atas, badai kecil datang mengguncang hidupku. Bukan badai yang gaduh, melainkan perubahan -perubahan sunyi dan kehilangan orang terdekat: kehilangan figur yang selama ini aku andalkan, persahabatan yang tak lagi sama, pertanyaan tentang masa depan yang terasa terlalu cepat datang, dan perasaan-perasaan yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Badai itu datang bukan untuk merobohkan, melainkan untuk membuatku berhenti. Beberapa hal gagal tanpa alasan yang bisa kuterima. Beberapa orang pergi tanpa memberi kesempatan untuk kupahami. Sejak itu, aku mulai menyadari bahwa ambisi yang selama ini kujadikan pegangan ternyata juga menjadi bebanku sendiri.
Setelahnya, hidup terasa mengecil atau mungkin aku yang akhirnya memperlambat langkah. Aku menemukan diriku bertahan pada hal-hal sederhana: segelas matcha di pagi hari, kehadiran kucingku yang tidak pernah menuntut penjelasan, halaman kosong yang selalu menungguku menulis apa pun yang tidak sanggup kuucapkan, langit biru yang selalu menyapaku. Di antara itu semua, ada seseorang yang hadir tanpa rencana, tanpa janji, hanya cukup untuk mengingatkanku bahwa aku tidak harus menghadapi segalanya sendirian.
Aku masih sering ragu. Aku masih belum sepenuhnya percaya pada cinta, atau masa depan yang pasti. Tapi aku mulai mengerti bahwa hidup tidak selalu meminta kita untuk menang kadang ia hanya ingin kita jujur pada apa yang kita rasakan.
Pesan: Semua Alur Cerita dan nama Tokoh Hanya Fiksi Belaka Tidak Ada Keterikatan Dengan Dunia Nyata
Todos os Direitos Reservados