Menjelang usia 25 kadang kita dihadapkan oleh banyak hal tentang masa depan. Kesuksesan yang diukur dari jabatan, penghasilan, hingga tentang asmara juga diperhitungkan. Standar masyarakat yang kian hari semakin tak masuk akal untuk diikuti. Hanya saja kita hanya seonggok manusia yang tak bisa merubah segala paradigma yang sudah ada. Memberontak memang bukan gayanya, tapi menuruti semuanya hanya akan membuatnya gila. Persetan dengan standar masyarakat, karena baginya hidup hanya untuk dirinya. Bahagia tak pernah bisa diukur hanya dengan pujian yang diberikan oleh mulut mulut tak beradab. Toh hidup ini juga bukan ajang perlombaan yang siapa cepat dialah pemenangnya. Karena, setiap orang punya ritme masing-masing untuk melalui tahapan. Jadi, jangan terburu-buru karena ketertinggalan yang tak pernah ada. -Kalinda Ardhiona-
More details