Rumah yang Tak Pernah Kusinggahi

Rumah yang Tak Pernah Kusinggahi

  • WpView
    LETTURE 285
  • WpVote
    Voti 18
  • WpPart
    Parti 14
WpMetadataReadCompleta ven, giu 26, 2026
WpInfo
Narrativa
Storie d'Amore
Commedia romantica
Triangolo amoroso
Highschool
"Aku tidak pernah keberatan menjadi orang pertama yang mendengar tangisnya, atau jadi tempat dia pulang saat dunianya sedang berantakan. Bagiku, Zefanya Evangelista bukan sekadar gadis pindahan yang hadir di masa sekolahku. Dia berharga, bahkan sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Dan untuk seseorang yang aku anggap keluarga, kebahagiaannya adalah harga mati-meski itu bukan berasal dariku. Aku menjadi saksi saat Alexander Andreas, sahabatku sendiri, mematahkan hatinya. Aku juga yang menjembatani jalannya menuju Aditya Candra, hanya karena aku ingin dia kembali tersenyum. Aku selalu memilih untuk diam di garis belakang, menjaga Zefanya dengan cara yang paling aman: tanpa status. Namun, diamku ternyata menjadi bumerang. Saat sebuah rahasia terbongkar dari mulut Alex, aku dipaksa menghadapi kenyataan bahwa Zefanya selama ini menungguku melangkah. Aku tidak bergeming. Bukan karena tidak punya rasa, tapi karena aku tahu diri. Aku tidak ingin melukai perasaan sahabat yang pernah mencintainya, dan aku merasa Zefanya berhak mendapatkan seseorang yang lebih 'pantas' dariku. Malam tahun baru itu, aku memberanikan diri untuk bertemu dia secara langsung untuk berbicara dengan nya aku berdiri di depan rumahnya dengan semua kata yang sudah kususun rapi di kepala. Tapi ternyata, dunia nggak nunggu aku siap. sekilas Dari kejauhan, aku melihat Zefanya perlahan menjauh, menghindar, dan aku juga sekilas melihat Adit Birendra bersama dia. Malam itu, di bawah riuhnya kembang api, aku baru sadar satu hal; menjaga perasaan semua orang ternyata harus dibayar dengan kehilangan dia selamanya. Aku yang menjaga rumah itu, tapi orang lain yang akhirnya menempati." Kisah ini Terinspirasi dari kisah nyata yang aku rombak semedikian rupa jika ada yang tidak setuju dengan cerita ini bisa memberitahu saya, saya siap menghapus cerita ini.
Tutti i diritti riservati
#515
basedontruestory
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Nala dan Mas Juragan
  • Sweetly Tied
  • The Last Yes!
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • EINSTEIN [END]
  • The Mafia's Sinful Obsession
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Mulih (END)
  • Círculo del Destino

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti