Di antara riuhnya lorong sekolah dan aroma kayu meja kelas, tersimpan sebuah cerita tentang enam remaja yang dunianya perlahan saling bertautan. Ini adalah kisah harian yang tampak sederhana, namun menyimpan gejolak perasaan yang mendalam di balik seragam putih abu-abu.
Fokus utama bermula pada dua gadis yang bersahabat erat. Bagi mereka, masa SMA adalah tentang tawa di kantin bersama teman sekelas nya yang ikut nimbrung dalam aktivitas mereka dan rahasia yang dibagi berdua. Namun, kestabilan dunia mereka mulai goyah saat tiga cowok hadir dengan karakter yang berbeda-beda. Ketiga cowok ini bukan sekadar datang, melainkan menjadi penentu arah baru bagi langkah kedua gadis tersebut-membawa arti tentang debar yang manis, sekaligus luka yang harus disembunyikan.
Namun, di sudut sekolah yang paling sunyi-ruang seni yang beraroma cat minyak dan tumpukan kanvas-ada gadis ketiga. Ia adalah sang pelukis yang memilih menarik diri dari keramaian. Dari balik bingkai jendela ruang seni, ia menjadi saksi bisu di antara segalanya. Lewat goresan kuasnya, ia merekam setiap tatapan yang tak tersampaikan, setiap kebohongan yang dirajut di lapangan, hingga retakan-retakan kecil dalam persahabatan kedua gadis itu yang tak disadari oleh orang lain.
Baginya, warna-warna di kanvas jauh lebih jujur daripada kata-kata yang diucapkan di lorong sekolah. Ia tahu rahasia yang tak diketahui siapa pun, menunggu waktu hingga kebenaran itu terlukis sepenuhnya.
Di bawah langit sekolah yang sama, saat romansa dan realita mulai beradu, siapakah yang akan menemukan arti langkah mereka yang sebenarnya?
Cerita ini tentang mereka tiga gadis dengan tiga lelaki yang menjadi topik utamanya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang