Between Us

Between Us

  • WpView
    Reads 725
  • WpVote
    Votes 134
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 3, 2026
Sky dan Ocean selalu bilang mereka hanya teman, teman kecil. Teman yang tumbuh bersama, teman yang tahu kebiasaan paling kecil satu sama lain. Tapi Sky bersandar terlalu sering, meminta ditemani dan selalu tahu ke mana harus pulang saat dunianya retak. Ocean pun selalu menjadi garda terdepan saat sky tidak baik-baik saja dan menjadi tempat Sky berhenti, bahkan saat Sky sendiri belum paham apa yang ia cari. Ini bukan cerita cinta sepihak, ini tentang dua orang yang nyaman berada di wilayah abu-abu, menikmati kedekatan yang seharusnya tidak dilakukan oleh "sekadar teman". Karena kadang, yang paling berbahaya bukan perasaan yang diucapkan melainkan yang dibiarkan tumbuh tanpa pernah diakui.
All Rights Reserved
#146
boyloves
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines