Terikat pada Luka

Terikat pada Luka

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 19, 2026
Nayara Aluna tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Saat perusahaan ayahnya berada di ambang kehancuran, seorang pria misterius datang membawa satu penawaran-bantuan, dengan satu syarat: pernikahan. Tanpa cinta. Tanpa pilihan. Elion adalah suami yang dingin, penuh rahasia, dan menyimpan dendam yang tak pernah Nayara pahami. Di balik sikapnya yang kejam, tersembunyi masa lalu kelam yang perlahan mengancam segalanya-termasuk perasaan yang tanpa sadar mulai tumbuh di antara mereka. Ketika pernikahan yang dipaksakan berubah menjadi perasaan yang nyata, akankah cinta mampu mengalahkan dendam?
All Rights Reserved
#53
marriagecontract
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • 𝐋𝐢𝐧𝐞 𝐎𝐟  𝐃𝐞𝐬𝐜𝐞𝐧𝐭 (End)
  • Thread of Destiny
  • THE FORGOTTEN PAST (END)
  • A Second Bloom Of Us
  • Destiny of death
  • Senja di Kota [New Novel]✅
  • Serafina
  • G E M I N I
  • Inked US

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines