Hidup tidak selalu tentang mencapai tujuan sendiri.
Kadang, hidup adalah tentang menjadi teman berjalan agar orang yang kita cintai bisa sampai pada tujuan.
Bastian-atau Bas-adalah pemuda usia 25an yang pernah menyimpan mimpi sederhana namun mulia: menjadi dokter. Mimpi itu tak pernah benar-benar mati, hanya dikubur dengan sadar ketika ayahnya pergi untuk selamanya, meninggalkan seorang ibu dan tiga anak yang masih membutuhkan masa depan.
Tanpa kuliah, tanpa gelar, tanpa peta hidup yang jelas, Bas memilih jalan sunyi: bekerja apa saja, menunda bahagia, menahan lelah, dan menyisihkan harapan demi memastikan adik-adiknya tetap sekolah. Ia tidak berdiri di garis akhir kesuksesan, tetapi berjalan di samping mereka-menjadi teman perjalanan yang tak pernah meninggalkan.
Di tengah kerasnya hidup, Bas memegang satu prinsip:
bertahan hidup, memaknai hidup, dan memberi manfaat.
"Teman Berjalan" adalah kisah tentang pengorbanan yang tidak berisik, cinta keluarga yang tidak menuntut balasan, dan kesuksesan yang lahir bukan dari pencapaian pribadi, melainkan dari langkah-langkah yang menyangga perjalanan kehidupan orang lain.
Gumi selalu dipaksa untuk mengalah pada adik, dan mengerti keadaan kakak.
Pada suatu malam, Gumi yang biasanya mau mengalah pada adik dengan mudah, tiba-tiba tidak mau berbagi sampai adiknya menangis dan membuat Mama marah. Tidak hanya Mama, Papa juga marah akan sikap Gumi.
Setelah mendapatkan hukuman dari Papa, Gumi jatuh terlelap karena sudah lelah menangis. Namun apa yang dia dapatkan ketika terbangun? Gumi bertransmigrasi ke tubuhnya satu tahun yang lalu.
Gumi bertekad untuk tidak mengemis perhatian dari kedua orang tuanya. Gumi akan berusaha menjadi anak yang mandiri dan memutuskan untuk menghindari kedua orang tuanya.