Di sebuah kedai kopi kecil dekat kampus, Alya selalu memilih meja sudut tempat ia menyembunyikan lelah, skripsi yang tak kunjung selesai, dan perasaan yang tumbuh diam-diam. Hingga suatu hari, secangkir kopi dan seorang barista bernama Raka mengubah rutinitasnya menjadi sesuatu yang berarti.
Tentang pertemuan yang sederhana, percakapan yang pelan, dan perasaan yang tak pernah dipesan, cerita ini mengajak pembaca menyelami rindu, cemburu tanpa status, serta keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena tidak semua kehilangan terasa nyata, dan tidak semua pertemuan datang untuk sekadar singgah.
"Secangkir Kopi yang Menyebut Namaku" adalah kisah tentang meja sudut, kopi tanpa banyak gula, dan dua hati yang akhirnya memilih untuk saling tinggal.
Tutti i diritti riservati