No Sugar Needed - Coffee and the Things We Don't Say

No Sugar Needed - Coffee and the Things We Don't Say

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 8, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Aruna terbiasa hidup di antara harapan orang lain dan keinginannya sendiri. Di rumah, ia belajar menjadi anak yang kuat. Di sekolah panti, ia belajar menjadi guru. Di sela-sela itu, ia menulis-diam-diam-dan menemukan ketenangan dalam segelas kopi tanpa gula. Pertemuannya dengan Panji terjadi tanpa rencana, di sebuah café kecil yang baru buka di seberang jalan. Tidak ada percakapan panjang, hanya kopi yang diracik pelan, kue percobaan dapur, dan perhatian yang tumbuh tanpa banyak suara. Di antara keluarga, pekerjaan, dan mimpi yang belum sepenuhnya berani diucapkan, Aruna dan Panji belajar bahwa tidak semua cita-cita harus dijalani sendirian. Kadang, cukup ada seseorang yang duduk di seberang meja-menyediakan kopi, ruang, dan waktu-untuk membangun mimpi bersama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines