24 parts Ongoing Pengabdian penuh cinta yang justru melukai diri sendiri.
.
Cinta seharusnya menjadi tempat pulang, bukan ruang penghakiman.
Namun bagiku, cinta lahir bersamaan dengan luka, dibungkus rapi dalam nama keluarga, diserahkan sebagai kewajiban, bukan pilihan.
Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa mengalah adalah bentuk paling suci dari kasih, dan diam adalah cara paling aman untuk tetap dicintai.
Mereka menyebutnya pengorbanan.
Aku menyebutnya kehilangan diri. Setiap ketidakadilan selalu punya alasan yang terdengar mulia, setiap keberpihakan selalu dibungkus kalimat "demi kebaikan bersama." Aku belajar mencintai tanpa pernah benar-benar dipilih, setia tanpa pernah diperjuangkan.
Dan anehnya, aku tetap bertahan, seolah rasa sakit adalah harga yang pantas dibayar untuk sebuah pengakuan yang tak pernah datang.
Cinta yang kupeluk terlalu erat berubah menjadi belenggu. Kesetiaan yang kupertahankan menjelma pisau bermata dua: melukai mereka yang kuharapkan, dan lebih kejam lagi-melukai diriku sendiri.
Di sanalah aku menyadari, pengabdian yang dipaksakan tak pernah suci. Ia kejam karena menuntut segalanya, tapi tak memberi apa pun selain harapan palsu.
Kini aku berdiri di batas yang tak pernah diajarkan padaku: memilih diri sendiri. Dan jika cinta harus menuntut balasan atas semua yang direnggut, maka biarlah dunia menyebutnya dendam. Aku menyebutnya keadilan.
Sierra Thana Melantha.