Tisari mengira setelah menemukan rumah, yang tersisa hanyalah tinggal di dalamnya dengan tenang. Ternyata tidak sesederhana itu. Abyasa Satria Kusumawardana bukan hanya pangeran Keraton Mandalawangi. Dan dirinya---yang rumah pertamanya runtuh oleh gempa, rumah keduanya hancur oleh perceraian---kini berdiri di sisinya. Di tengah bisikan tajam kerabat yang meragukan, bayang-bayang segala hal, serta beban menjadi perempuan di posisi yang begitu tinggi, Tisari tahu satu hal: membentangkan daun, menegakkan fondasi, dan melanjutkan apa yang telah dimulai. Karena rumah bukan tentang diterima. Rumah adalah tentang membangun---bahkan saat badai datang lebih cepat dari yang dikira. "Di keraton, diam bisa berarti hormat. Atau bisa berarti kalah. Aku memilih yang pertama." ---Kenanga Luhtitisari Kusumawardana. #6 Mandalawangi Universe
More details