Gus Ganteng!

Gus Ganteng!

  • WpView
    Odsłon 21
  • WpVote
    Głosy 0
  • WpPart
    Części 9
WpMetadataReadW trakcie
WpMetadataNoticeOstatnia publikacja czw., sty 15, 2026
⚠️ PERINGATAN HAK CIPTA ⚠️ ​DILARANG KERAS menyalin, memplagiat, atau mempublikasikan ulang cerita ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penulis. Hargai setiap tetes ide dan waktu yang dituangkan dalam rangkaian kata ini. Mari menjadi pembaca dan penulis yang cerdas serta jujur. ​MAMPIR KE KARYAKU YANG LAIN! 📚 ​Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Arsy dan Gus Aydan! 🤎 Oh ya, ini adalah Karya Pertama aku. Buat kalian yang baru bergabung atau ingin mencari suasana cerita yang berbeda, jangan lupa mampir ke Karya aku yang lain! 🌷🌷🌷 Arsy: "Kenapa kamu peduli banget sama gue? Gue cuma santri titipan yang bikin malu nama pesantren lo!" Gus Aydan: (Menatap tajam dengan suara rendah) "Karena menjaga kamu bukan lagi tugas pesantren ini, Arsyila. Itu tugas saya, sebagai suami yang sah di mata Allah." .... Arsy: "Gus, lepasin! Nanti telat ke masjid, santri nungguin!" Gus Aydan: "Biarkan mereka menunggu sebentar. Mengagumi ciptaan Tuhan yang paling indah di depan saya ini juga bagian dari dzikir pagi saya." .... Arsy: "Gimana kalau anak kita bandel kayak aku dulu?" Gus Aydan: "Kalau dia seberani kamu, saya akan bangga. Tapi tenanglah, jika kamu adalah apinya, saya akan menjadi air yang menyejukkan kalian berdua. Selamanya."
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
#389
gus
WpChevronRight
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści