We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
TUJUH BELAS

TUJUH BELAS

  • WpView
    Reads 4,243
  • WpVote
    Votes 554
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 15, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Highschool
Usia tujuh belas sering kali menjadi waktu di mana perasaan datang begitu saja tanpa sempat kita beri nama. Hari-hari di sekolah yang tadinya terasa biasa, perlahan mulai penuh dengan kenangan. Tentang seseorang yang awalnya asing, namun perlahan membuat kita peduli bahkan pada hal-hal terkecil tentang kehadirannya. ​Di fase ini, tidak ada janji atau pernyataan yang berlebihan. Semuanya tumbuh dengan tenang, sedikit canggung, namun sangat jujur. Layaknya sebuah lagu yang mengalun lembut sebagai latar, kisah ini berjalan ringan dan hangat. Mengingatkan kita bahwa di usia tujuh belas, jatuh hati tidak selalu harus dirayakan dengan meriah. Cukup dirasakan, disimpan, lalu dikenang kemudian hari. ©ovosooya 2026
All Rights Reserved
#669
chiquita
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines