Di Desa Girilaya, ketenteraman lahir dari api. Seorang perempuan pernah dibakar di alun-alun karena cinta yang dianggap menyimpang, dan dari kematian itulah Arasti menjelma. Ia tidak kembali sebagai arwah yang meratap, melainkan sebagai kekuatan yang ditinggikan, dipuja, dan ditakuti. Warga menyebutnya pelindung, penentu panen, penahan bencana. Dalam waktu singkat, Arasti menjadi ilahi versi desa itu sendiri.
Kemakmuran datang bersamaan dengan perjanjian. Setiap tahun, desa menyerahkan satu persembahan hidup agar keseimbangan tetap terjaga. Ritual itu dilakukan dengan tertib, disertai doa dan keyakinan bahwa pengorbanan adalah harga wajar bagi keselamatan bersama. Girilaya tumbuh subur, ladang-ladang hijau, penyakit jarang singgah, dan orang-orang percaya mereka telah memilih tuhan yang tepat.
Hingga suatu tahun, tumbal yang dipilih berbeda dari sebelumnya. Seorang perempuan buta, tenang dan bersih dari ketakutan yang biasanya menyertai ritual. Ia tidak melihat patung, tidak menyaksikan arak-arakan, namun kehadirannya justru menjadi lambang baru bagi desa. Orang-orang mulai mengaitkannya dengan keberuntungan, dengan hasil bumi yang berlipat, dengan rasa damai yang aneh namun nyata.
Perempuan itu tidak memohon dan tidak melawan. Ia hanya ada. Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi ilahi, Arasti merasakan sesuatu yang bukan pemujaan dan bukan ketakutan. Sesuatu yang membuatnya ragu pada perjanjian yang ia bangun dari luka.
Novel ini mengisahkan bagaimana kekerasan dapat menjelma iman, bagaimana korban diangkat menjadi tuhan, dan bagaimana satu sosok sunyi perlahan mengganggu tatanan yang tampak sempurna. Di tengah kemakmuran dan ritual yang mapan, hubungan yang tak seharusnya muncul mulai menggeser makna kuasa, pengorbanan, dan belas kasih, tanpa pernah menyebutkannya sebagai keajaiban.
All Rights Reserved