"Selama tiga puluh tahun, Aris memeluk kebencian sebagai satu-satunya warisan dari ayahnya. Baginya, Sulaiman hanyalah seorang pria pengecut yang pergi meninggalkan luka dan kemiskinan. Namun, sebuah peti kayu di sudut gudang ibunya mengubah segalanya.
Di dalamnya, tumpukan surat berdebu menyimpan rahasia tentang setiap tetes keringat di lubang tambang, tentang setiap batuk darah yang disembunyikan, dan tentang sebuah janji yang dibayar dengan nyawa. Aris menyadari bahwa pahlawan yang ia kutuk selama ini adalah pria yang rela menjadi 'penjahat' agar anaknya bisa tetap berdiri tegak.
Akankah maaf masih memiliki arti saat nisan sudah membatu? Sebuah kisah mengharukan tentang penyesalan, pengorbanan sunyi, dan cinta seorang ayah yang tak pernah sempat terucap."
Setelah kematian ibunya, Aris menemukan kotak berisi surat-surat dari ayahnya, Sulaiman, yang dulu ia anggap menelantarkan keluarga. Lewat surat-surat itu, Aris melakukan perjalanan batin dan fisik ke pedalaman tambang Kalimantan. Di sana, ia menemukan kenyataan pahit bahwa ayahnya bekerja dalam kondisi tidak manusiawi demi melunasi utang keluarga dan membiayai pendidikan Aris hingga menjadi sarjana.
Ayahnya sengaja membiarkan dirinya dibenci agar Aris tumbuh kuat tanpa harus menanggung beban rasa kasihan. Novel ini mengikuti transformasi Aris dari pria yang penuh amarah menjadi sosok yang penuh pengampunan, yang akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk melanjutkan kebaikan ayahnya melalui "Rumah Baca Sulaiman".
Pesan Penulis (Raksa Dirgantara)
"Novel ini saya tulis untuk mengingatkan kita semua, bahwa di balik punggung orang tua yang mulai membungkuk, ada beban-beban yang tidak pernah mereka ceritakan. Semoga kita tidak perlu menunggu sebuah surat terlambat sampai untuk mulai mencintai mereka."
Todos los derechos reservados