Sebelum musim itu datang, aku tidak sedang kehilangan apa pun.
Hidupku berjalan sebagaimana mestinya-tenang, utuh, dan memiliki arah yang jelas untuk kutempuh pulang. Aku tidak sedang mencari siapa-siapa. Tidak sedang menunggu keajaiban datang mengetuk pintu hidupku diam-diam.
Lalu musim itu tiba.
Ia datang ketika aku memasuki wilayah yang tak pernah kukira akan kudatangi. Tempat asing yang perlahan mengubah cara pandangku terhadap banyak hal, termasuk terhadap diriku sendiri.
Aku berkelana, belajar, lalu kembali pulang seperti biasa.
Dan aku memang punya tempat untuk pulang.
Aku punya rumah.
Punya arah.
Punya seseorang yang menungguku mengirim pesan sederhana di penghujung hari:
"Aku sudah pulang ya."
Kalimat kecil yang hangat itu seharusnya cukup untuk membuat seseorang merasa utuh. Dan selama ini, memang cukup. Setidaknya, begitu yang selalu kuyakini.
Namun hidup rupanya tidak hanya berisi tentang rumah dan segala hal yang tinggal di dalamnya.
Sebab di luar sana, ada hal-hal lain yang tetap tumbuh tanpa meminta izin pada hati manusia. Hal-hal yang tidak hadir untuk dimiliki, melainkan untuk dipahami. Untuk menguji, seberapa kuat seseorang mempertahankan pilihannya ketika dunia mulai memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
Dan mungkin, sejak saat itulah musim itu benar-benar dimulai.
Tutti i diritti riservati