Qeez
  • WpView
    Reads 11,876
  • WpVote
    Votes 1,788
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 24, 2026
Memang harus ada kejadian besar, baru pria itu ingat untuk pulang ke Indonesia. Namun pulangnya membawa luka, dan trauma tersendiri sehingga ia berniat mencari pelampiasan di vault bar Jakarta. Memesan wanita dari anak yang bisa dikatakan seumuran dengan adiknya Areta. "Lo temannya Areta kan?" Qeez mengangguk lagi, namun kali ini sedikit pelan. Tatapannya menunduk sebentar, menahan debar. "Areta tau lo kerja di sini?" tanya Harrev lagi , kali ini nada santai tapi tetap menusuk , seolah menilai. "Gue di sini penghubung, bukan lady..." katanya, suara sedikit bergetar tapi tegas, mencoba menjelaskan profesinya. Harrev menatapnya dengan dingin, masih menyimpan ekspresi seperti mengejek. "Gak percaya gue?" "Bukan ranah gue juga buat bikin lo percaya..." balas Qeez dengan nada yang tak kalah dingin dari Harrev. Bibirnya bergetar sedikit, tapi ia tetap menahan emosi. *** Lo jauh-jauh bawa gue ke sini, buat bunuh diri bareng?" sarkas Qeez melihat Harrev yang sudah selesai dengan drama tali yang mengikat pinggangnya. Pria itu hanya tertawa, tawa lepas yang tidak pernah Qeez lihat sebelumnya. "Yok, asik kayaknya." Ujarnya remeh Ia memberi tali itu ke Qeez namun Qeez hanya diam tak bergeming. "Gila ya lo.."
All Rights Reserved
#18
harryvaughan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines