DUA CAKRAWALA

DUA CAKRAWALA

  • WpView
    Reads 74
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 16, 2026
"Di sekolah yang sama, kita belajar tentang dunia yang luas. Namun di hadapan Tuhan, kita belajar bahwa dunia kita ternyata berbeda." Bagi Zeyyana, sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai, melainkan panggung untuk keceriaan yang meledak-ledak. Namun, pagi itu panggungnya hampir runtuh. Di bawah terik matahari lapangan upacara yang membakar, Zeyyana kebingungan didalam kelas karena kehilangan "pelindungnya"-sebuah topi. Di tengah kepanikan akan hukuman guru piket, sebuah tangan misterius meletakkan topi di kepalanya, lalu menghilang begitu saja dari kelas yang riuh dan menjadi sepi. Pemilik topi itu ternyata adalah Athar, cowok pendiam dengan tatapan setajam elang yang kini duduk tepat di barisan belakang kelasnya. Pertemuan yang diawali dari sepotong kain penutup kepala itu perlahan berubah menjadi obrolan-obrolan panjang di selasar sekolah. Zeyyana adalah matahari yang hangat, dan Athar adalah senja yang tenang. Namun, semakin mereka saling mengenal, semakin mereka menyadari bahwa mereka sedang berlari menuju sebuah tembok besar. Mereka adalah dua cakrawala: terlihat bersentuhan di ujung pandangan, namun sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang tak berujung. Zeyyana yang setiap Minggu pagi melipat tangan di bangku gereja, dan Athar yang setiap lima waktu bersujud menghadap kiblat. Di antara tugas kelompok, tawa di kantin, dan rahasia di balik topi upacara, keduanya dipaksa bertanya pada semesta: "Apakah cinta cukup kuat untuk menyatukan dua doa yang tujuannya berbeda?" Di sekolah ini, mereka belajar banyak hal, tapi tidak ada kurikulum yang mengajarkan cara merelakan seseorang yang namanya selalu mereka sebut dalam doa yang berbeda.
All Rights Reserved
#46
cakrawala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines