"Di sekolah yang sama, kita belajar tentang dunia yang luas. Namun di hadapan Tuhan, kita belajar bahwa dunia kita ternyata berbeda."
Bagi Zeyyana, sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai, melainkan panggung untuk keceriaan yang meledak-ledak. Namun, pagi itu panggungnya hampir runtuh. Di bawah terik matahari lapangan upacara yang membakar, Zeyyana kebingungan didalam kelas karena kehilangan "pelindungnya"-sebuah topi. Di tengah kepanikan akan hukuman guru piket, sebuah tangan misterius meletakkan topi di kepalanya, lalu menghilang begitu saja dari kelas yang riuh dan menjadi sepi.
Pemilik topi itu ternyata adalah Athar, cowok pendiam dengan tatapan setajam elang yang kini duduk tepat di barisan belakang kelasnya. Pertemuan yang diawali dari sepotong kain penutup kepala itu perlahan berubah menjadi obrolan-obrolan panjang di selasar sekolah. Zeyyana adalah matahari yang hangat, dan Athar adalah senja yang tenang.
Namun, semakin mereka saling mengenal, semakin mereka menyadari bahwa mereka sedang berlari menuju sebuah tembok besar. Mereka adalah dua cakrawala: terlihat bersentuhan di ujung pandangan, namun sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang tak berujung. Zeyyana yang setiap Minggu pagi melipat tangan di bangku gereja, dan Athar yang setiap lima waktu bersujud menghadap kiblat.
Di antara tugas kelompok, tawa di kantin, dan rahasia di balik topi upacara, keduanya dipaksa bertanya pada semesta: "Apakah cinta cukup kuat untuk menyatukan dua doa yang tujuannya berbeda?"
Di sekolah ini, mereka belajar banyak hal, tapi tidak ada kurikulum yang mengajarkan cara merelakan seseorang yang namanya selalu mereka sebut dalam doa yang berbeda.
berharap bukan hanya sekedar mengenal dan tertawa bersama, nyatanya harapan itu hanyalah harapan milikku saja.
lain kali, jangan terlalu terbawa perasaan.