"Orang-orang selalu berkata bahwa mata adalah jendela hati." "Mereka salah." "Mataku tidak pernah menunjukkan apa yang sebenarnya kupikirkan." "Jika hati seseorang benar-benar dapat dibaca melalui matanya, seharusnya mereka sudah menyadarinya sejak lama." "Bahwa aku tidak pernah menjadi gadis baik seperti yang mereka bayangkan." Edelyn Daisy dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkannya bahwa dunia hanya berpihak kepada mereka yang memiliki kekuatan. Di rumah tempat ia tumbuh, tangisan dianggap sebagai kelemahan, luka tidak pernah benar-benar disembuhkan, dan kasih sayang hanyalah sesuatu yang asing. Sedikit demi sedikit, Daisy kehilangan empati, kehangatan, serta kemampuan untuk mencintai. Sebagai gantinya, ia dianugerahi wajah yang begitu sempurna hingga mampu memikat siapa pun yang memandangnya. Dan Daisy tahu betul bagaimana memanfaatkan hal itu. Di balik senyum lembut dan sikap anggunnya, tersembunyi ambisi yang tak pernah terpuaskan. Ia ingin menjadi yang terbaik, paling dikagumi, dan paling berkuasa. Bagi Daisy, manusia hanyalah bidak yang dapat digunakan, digerakkan, lalu ditinggalkan ketika tidak lagi berguna. Karena dunia bukanlah tempat untuk mencari cinta. Melainkan papan permainan tempat ia harus selalu menjadi pemenangnya. Namun bahkan seorang pemain terbaik pun memiliki tujuan. Dan tujuan Daisy hanya satu. Membalas dendam kepada wanita yang telah meninggalkannya bertahun-tahun lalu, ibu kandungnya. Untuk mencapainya, Daisy siap memanfaatkan siapa pun yang diperlukan. Sayangnya, tidak semua bidak dapat dikendalikan. Dan ketika rahasia masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan mulai terungkap, Daisy harus memilih. Tetap menjadi pemain... Atau menjadi korban dari permainannya sendiri.
More details