The Dandelion Hunters

The Dandelion Hunters

  • WpView
    Membaca 15
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Mar 9, 2026
WpInfo
Fiksi
Aksi dan Thriller
DANDELION HUNTERS "Jika hidup tidak berpihak pada kita, maka barangkali kita sedang diajari tentang cara berdiri tanpa sandaran. tentang bagaimana tetap bernapas meski dada sesak, tentang bagaimana melangkah walau arah kian tersesat." "Wah sangat mengharukan. Akhirnya keluarga kecil berhasil menyentuh wilayahku," Katanya dengan sebuah pistol di tangannya yang sudah peluruhnya sudah siap di bidik. Raina pun ikut mengangkat senjatanya. Matanya memerah, marah bercampur sedih. Wajah yang harusnya sudah berada di surga kini harus muncul dihadapannya dengan tubuh musuh. "Menjijikan sekali, saking buruk rupanya hingga memakai wajah orang lain." Raina murka, ia merasa tak sudi wajah Theo di gunakan oleh orang sekeji Zico. "Hahaha, bukankah wajah ini membuatku tampak awet muda? Kita seperti sebaya sekarang." Ejeknya pada Raina. "Bertahun-tahun, aku sudah muak melihat tingkah kalian, akan ku lenyapkan kalian semua." "Dorr!!" sebuah tembakan Meletus mengenai lengan uncle Tor. Raina kaget. Tangannya bergetar. Rasanya ia tidak bisa menembak wajah Theo walaupun ia tau itu bukan Theo yang sesungguhnya. "Jangan Bengong Rainaaa!!"
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#686
kisahhidup
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  •  "The Protector's Legacy: Love, Chaos, and the Choi Heirs
  • Transmigrasi: Dion or Daniel (Hiatus)
  • Force to Marry the Devil
  • Changed || Caine Chana || FANFIC || S3 ON GOING
  • Stay with you? Really?
  • Terasingkan (On Going) (Slow Update)
  • Ferrell Harland Natio
  • Just A Name
  • The Baby Of Valderic

Jennie mendengus, lalu masuk ke dalam mobil. Saat Lisa hendak duduk di kursi depan samping supir, Jennie tiba-tiba bersuara. "Siapa bilang kau duduk di depan? Kau duduk di belakang, di sampingku. Aku ingin melihat seberapa hebat 'pahlawan' pilihan Appa ini saat aku sedang merasa bosan," perintah Jennie dengan nada meremehkan. Lisa terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Baik, Nona."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan