DIA YANG BERTAHAN , DIALAH PEMENAG

DIA YANG BERTAHAN , DIALAH PEMENAG

  • WpView
    LECTURAS 16
  • WpVote
    Votos 6
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, ene 7, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Kisah ini bercerita tentang seorang anak bernama Khairul Amin, yang tumbuh dalam didikan keras-di antara jeritan, pukulan, dan larangan yang seolah tak pernah ada ujungnya. Sejak kecil, hidupnya dibatasi oleh ketakutan ibunya: jangan ini, jangan itu, jangan pergi jauh, jangan bermain terlalu bebas. Setiap kali amarah memuncak, ibunya selalu berkata, "Kalau kamu tidak mau dilarang dan tidak mau dengar kata mama lagi, ya pergi saja." Kata-kata itu tertanam lama di hati Amin. Maka ketika usia dan keberaniannya cukup, Amin memilih masuk pondok pesantren. Bukan untuk lari, bukan pula untuk mencari perlindungan-melainkan untuk mendidik dirinya sendiri, menjauh sejenak dari rumah, dan memberi jarak antara dirinya dan ibunya yang terlalu takut kehilangan hingga berubah menjadi keras. Di pondok pesantren, Amin menemukan ketenangan yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Ia belajar tentang disiplin, kesabaran, dan sunyi yang menenangkan. Di tempat itu pula ia mengenal seorang santriwati bernama Sri Wahyuni-perempuan yang tampak sederhana, namun berasal dari keluarga berada, bahkan membeli tanah tak jauh dari rumah Amin. perasaan itu tumbuh menyimpan harap besar pada hatinya. Namun kembali, Amin harus menelan kekecewaan. Kata-kata menyakitkan dari keluarga besar Sri meruntuhkan perasaannya. mengajarkannya bahwa jarak sosial kadang lebih tajam daripada penolakan. Dari luka itulah Amin membentuk prinsip hidupnya: "Dia yang bertahan, dialah pemenangnya." Prinsip itu membuatnya tumbuh menjadi lelaki yang terlihat dingin. Ia mampu memberi rasa, namun tak pernah benar-benar tinggal. Bukan karena ia kejam, melainkan karena hatinya telah belajar bertahan dengan cara membeku. Amin bukan penjahat perasaan, apalagi penjahat kelamin pemburu nafsu. Ia hanyalah pelukis hati-yang pergi sebelum lukanya kembali terbuka. Dan kisah ini adalah kisah tentang sebuah hati yang pernah membeku, yang diam-diam masih berharap suatu hari nanti ada seseorang yang mampu mencairkannya kembali.
Todos los derechos reservados
#46
marah
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido