"Apa lo pernah merasa diawasi?"Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan yang lahir dari dinding kamar. Evan terdiam di ambang pintu apartemennya sendiri. Kunci masih menggantung di tangannya. Ia menoleh ke belakang, ke lorong yang kosong dan remang. Tidak ada siapa-siapa. Di dalam kamar yang gelap, di ruang yang terlalu sunyi, seseorang sudah lebih dulu berada di sana. Elara menahan napas di bawah ranjang, tubuhnya menyatu dengan bayangan. Debu menempel di ujung jari dan lututnya, tapi ia tidak peduli. Ia bisa mendengar suara langkah Evan, berat dan lelah, bergerak mendekat. Ia selalu menyukai suara itu, ritme yang sudah ia hafal selama sembilan tahun. Kasur berderit pelan ketika Evan merebahkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, napasnya berubah menjadi lebih dalam, lebih berat, dan tak lama tertidur lelap. Elara tersenyum dalam gelap. Ia merangkak keluar perlahan, berdiri di samping ranjang. Matanya menatap wajah pria berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, terlalu lembut untuk disebut benci, terlalu dingin untuk disebut cinta. Tangannya masuk ke saku celana. Kain itu sudah ia siapkan. "Aku cuma ingin kamu diam," bisiknya pelan, seolah Evan bisa mendengar. Gerakannya cepat. Kain basah yang berbau zat kimia menyengat itu menutup mulut Evan. Pria itu tersentak, matanya setengah terbuka dalam kebingungan. Tubuh Evan bergerak gelisah, tangannya mencoba meraih sesuatu, namun perlahan melemah. Nafasnya terputus-putus sebelum akhirnya jatuh tak berdaya. Tangannya membuka kancing baju Evan satu per satu. Bukan terburu-buru, bukan kacau, semuanya dilakukan dengan kontrol. Telapak tangannya mengusap dada pria itu, lalu turun hingga ke perutnya. Tiba-tiba, ia menekan kuat. Tubuh Evan bereaksi refleks meski tak sadar, bergelojak lemah karena rasa sakit yang tak bisa ia lawan. Elara tersenyum tipis. "Kamu tetap merespons aku... bahkan dikondisi seperti ini."
More details