⚠️WARNING⚠️
Please don't copying my work.
===========
Di mata orang-orang yang baru mengenalnya, Jennie adalah definisi dari ketulusan yang murni. Namun, di balik pintu apartemen mewahnya yang temaram, ketulusan itu berubah menjadi sebuah obsesi. Jennie percaya bahwa cinta adalah pengorbanan tanpa batas, dan Liam adalah satu-satunya altar tempat ia layak memberikan segalanya-mulai dari kesetiaan, harga diri, hingga sisa-sisa kewarasannya yang mulai menipis.
Liam adalah seorang arsitek kehancuran. Dia tidak butuh komitmen, dia hanya butuh pemujaan. Baginya, Jennie adalah rumah yang selalu terbuka namun tak pernah ia huni sepenuhnya; sebuah tempat persinggahan nyaman saat ia lelah "bermain" dengan dunia luar. Liam sadar betul bahwa setiap detak jantung Jennie adalah miliknya. Ia sengaja membiarkan Jennie tetap naif, berpura-pura buta akan pengabdian wanita itu, agar ia bisa terus mengambil tanpa pernah merasa perlu memberi.
Setiap kali Jennie mulai retak melihat Liam dalam dekapan wanita lain, Liam selalu tahu 'dosis' yang tepat untuk menyembuhkannya. Satu pelukan hangat, bisikan janji kosong yang manis, dan tatapan mata yang seolah-olah mengatakan bahwa Jennie adalah pusat dunianya-semua itu adalah racun yang dikemas sebagai obat.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini adalah kisah tentang siklus trauma bonding yang mematikan. Saat Jennie mencoba melangkah mundur, Liam akan menariknya kembali ke dalam dekapan yang terasa seperti surga namun berbau neraka.
"Jika Liam menginginkan sesuatu, maka Jennie akan memberikannya."
Hukum itu tetap tegak berdiri meski Jennie harus hancur berkeping-keping. Karena bagi Jennie, lebih baik hancur di tangan Liam daripada utuh tanpa pria itu. Di dunia yang gelap dan penuh tipu daya ini, Jennie sedang menari di atas duri, dan dia menyebut rasa sakit itu sebagai 'cinta yang paling murni'.
Tutti i diritti riservati