Satu atap dengan Mas Arkan adalah siksaan nikmat yang menghancurkan logikaku. Dia bukan hanya kakak iparku, dia adalah miliarder dingin yang memiliki segalanya -kecuali aku, istri dari adiknya yang tidak berguna. Malam itu, saat suamiku belum pulang dan hujan badai mengguncang jendela, Mas Arkan masuk ke kamarku dengan tatapan gelap yang penuh rasa lapar. Suasana remang dan aroma parfum maskulinnya seketika menjajah seluruh indra penciumanku. 'Ah! Mas... pelan-pelan,' rintihanku pecah saat jemari kasarnya yang perkasa mulai menelusuri lekuk tubuhku tanpa permisi. Suara itu, desahan kecil yang memalukan itu, justru membuatnya semakin liar. 'Jangan panggil nama suamimu saat kamu gemetar di bawahku, Sayang,' bisiknya rendah, tepat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang hebat. Setiap sudut rumah mewah ini kini menjadi saksi bisu dari pengkhianatan yang paling manis. Aku tahu ini salah, aku tahu ini terlarang. Namun, rintihan 'Ah! Mas...' yang terus keluar dari bibirku membuktikan bahwa aku sudah sepenuhnya menjadi tawanan obsesi sang ipar yang posesif." Warning 21+
Más detalles