Mereka diusir oleh amarah sang ayah-amarah yang lebih mengerikan dari sebuah kematian yang paling nahas sekalipun.
Putaran roda DB5 bergesekan dengan aspal usang yang membentang seperti batas Istana Surya Montelace dengan suasana dunia luar. Di belakang istana itu masih terlihat megang, akan tetapi kemegahannya kini tak sebanding dengan bangunan kosong yang tertutup kabut duka. Lampu-lampu kristal di dalamnya meredup tak sanggup mencapai gerbang besi yang perlahan tertutup, seakan menandai akhir sebuah dunia.
Mata blue emerald itu memacu mobil tanpa menoleh kembali.
Gerbang yang selama ini menjadi lambang kekuasaan, perlindungan, dan kebahagiaan masa kecil, kini mereka tinggalkan untuk selamanya.
Aku akan menjagamu Elias, aku akan mewujudkan seluruh impianmu yang dipatahkan oleh peraturan kuno di dalam bangunan itu. Aku akan melindungimu, dengan seluruh kekuasaanku-meski tuhan menghadang sekalipun.
Sekilas matanya jatuh ke bangku belakang.
Di sana tubuh porselen itu terkulai lemah, pucat namun tetap elok dipandang, seolah rapuh oleh dunia yang kejam padanya. Napas Elias nyaris tak terdengar, namun keberadaannya menjadi sebab Sky masih menekan pedal gas tanpa ragu.
Roda itu terus berputar, meninggalkan lembah kelahiran mereka, tempat tawa pernah muncul, luka pertama tercipta. Jejak itu tertinggal berserakan di jalanan sunyi nan gelap, terhapus pelan oleh malam yang tak berempati, menuju sebuah tujuan yang akan memutar arah takdir mereka selamanya.
Mereka tidak pergi untuk disebut sebagai pelarian.
Mereka pergi menuju masa depan mereka, di mana keluarga, kekuasaan, darah dan peraturan istana tak lagi berkuasa.
Sebuah kisah baru, atau mungkin kisah yang berubah. Sejak malam itu, takdir tak lagi berpihak pada mereka, mereka lah yang akan melawan takdir.
All Rights Reserved