"Ko sekarang jadi nakal begini, hm? Siapa yang ngajarin?" tanya Galaska dengan nada dingin. Tatapannya tajam, menelusuri setiap perubahan pada diri Tarina. Tarina langsung mendongak. Tidak ada sedikit pun rasa takut di matanya-justru sebaliknya, tatapannya berani, seolah menantang. "Loh, kamu lupa?" ujarnya santai, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kamu yang ngajarin aku nakal, sayang. Tepatnya... tiga tahun lalu." Alis Galaska terangkat samar. Ia melangkah lebih dekat, jarak di antara mereka kini nyaris tak ada. "Sekarang udah berani natap aku, ya... cantik?" gumamnya pelan. Tangannya terangkat, menyelipkan helaian rambut Tarina ke belakang telinganya dengan gerakan yang terasa terlalu intim untuk orang asing. Tarina tidak bergeming. Ia justru semakin mendekat, napasnya nyaris menyentuh kulit Galaska. "Kenapa aku harus takut?" bisiknya lembut di telinga pria itu. "Sayang banget kalau wajah setampan ini nggak dilihatin." Rahangnya mengeras, tapi sorot matanya justru semakin dalam. "Berani juga kamu, hm... pakai baju seseksi ini sekarang?" ujarnya, tatapannya turun sekilas, lalu kembali mengunci mata Tarina. Tarina tersenyum tipis, penuh percaya diri. "Memang kenapa? Nggak boleh?" balasnya ringan. "Aku cantik, kan?"
More details