Unprofessional Diagnosis [END]
Mentari Kusumawardani (35) menganggap hidup adalah sekumpulan angka dan jadwal yang harus presisi. Hitam, pahit, dan efisien, seperti espresso yang ia minum setiap jam enam pagi. Baginya, cinta hanyalah kesalahan manajemen emosi yang tidak menguntungkan, terutama setelah tunangannya memilih tidur dengan adiknya sendiri.
Namun, tubuh Mentari tidak sejalan dengan logikanya. Setelah menyelesaikan rapat penting dan memastikan semuanya berjalan sempurna, ia justru jatuh pingsan. Di rumah sakit, ia bertemu dengan dokter Rangga Aditya, seorang spesialis penyakit dalam yang tidak peduli pada sopan santun.
Rangga tidak memberikan resep obat. Ia memberikan penghinaan. Menurutnya, penyakit Mentari sederhana, ia terlalu gila kerja dan lupa cara menjadi manusia. Rangga mendiagnosis hidupnya, bukan sekadar detak jantungnya.
Di antara jadwal audit perusahaan dan kontrol rumah sakit, Mentari dipaksa menghadapi satu kenyataan yang selama ini ia hindari. Bertahan hidup tidak selalu berarti menjadi kuat, dan berhenti bukan selalu bentuk kegagalan.