Ezran untuk Eshal
Ezran Malik Fathir, cucu seorang habib sekaligus santri di pondok pesantren kakeknya, hidupnya selalu penuh aturan. Meski alim, ia punya sisi unik: anak motor. Bukan untuk balap liar, tapi untuk kebaikan-sering dipakai antar jamaah, bantu orang, atau sekadar jadi "ojek pesantren" yang ikhlas. Sebagai anak tunggal, Ezran tumbuh manja, apalagi karena selalu jadi kesayangan keluarga.
Hidupnya berubah saat pertama kali melihat sosok Eshal Safiya Hanin-seorang ustadzah muda yang anggun, anak pertama dari tiga bersaudara, mandiri, dan dewasa. Dari pandangan pertama, hatinya bergetar. Bagi Ezran, itu bukan sekadar kagum... tapi takdir. Tanpa ragu, ia mantap berniat menempuh jalan ta'aruf.
Masalahnya?
Eshal lebih tua, berwibawa, dan nggak gampang luluh sama gombalan santri brondong manja. Ditambah lagi, keluarga mereka saling kenal dekat-ayah mereka sahabat lama, kakek Ezran adalah pemilik pondok tempat Eshal sering mengisi kajian.
Dalam perjalanan menuju cinta halal, Ezran belajar bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang kesiapan, keberanian, dan restu Allah. Dengan segala keluguannya, Ezran berusaha menunjukkan kesungguhan. Kadang bikin ngakak, kadang bikin meleleh, dan sering kali bikin hati Eshal bimbang-apakah ia siap menerima cinta dari seorang brondong santri yang begitu tulus?
Sebuah kisah manis, penuh tawa, nasihat, dan cinta yang diridhoi.
Karena sejak awal, hati Ezran hanya punya satu tujuan:
untuk Eshal.