Setelah KKN berakhir dan Jakarta kembali menjadi titik temu, Kai dan Zan mencoba melanjutkan cerita mereka dari pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab: Where were we before?
Seperti "Red String Theory", mereka masih sering bertemu-kadang di kampus, kadang di kafe sederhana, kadang di rumah kakak Zan-namun kali ini kebersamaan mereka lebih banyak diisi oleh layar laptop, tumpukan revisi skripsi, dan chat panjang yang sering berujung salah paham kecil. Hubungan yang dulu terasa ringan perlahan diuji oleh tenggat waktu, dosen pembimbing, dan kelelahan yang tak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Kai dan Zan saling menemani dalam versi paling sunyi dari perjuangan mahasiswa tingkat akhir: revisi berulang, video call larut malam, Zan yang mulai cuek karena skripsinya, dan Kai yang belajar memahami bahwa diam bukan selalu berarti menjauh. Mereka duduk berjauhan di ruang sidang skripsi masing-masing, namun doa mereka bertemu di waktu yang sama. Dua nama dipanggil, dua napas lega dihembuskan lulus bareng.
Di sela drama skripsi, ada momen-momen kecil yang menguatkan: shooting bareng yang penuh canda, menonton film pertama Kai bersama keluarga yang membuat Zan belajar menempatkan diri, serta foto-foto diam-diam yang menyimpan perasaan lebih dari sekadar teman. Hubungan mereka tak pernah diumumkan secara terang-terangan, namun kehadiran satu sama lain selalu terasa-meski harus berdiri di antara teman, pura-pura biasa, dan menjaga jarak.
Where Were We Before 2 adalah kisah tentang dua orang yang sama-sama lelah namun tetap memilih bertahan. Tentang cinta yang tidak berisik, kebersamaan yang sering tersembunyi, dan pertanyaan lama yang kini berubah makna: bukan lagi tentang masa lalu, melainkan tentang ke mana mereka akan melangkah setelah semua ini selesai.
Alle Rechte vorbehalten