Lembayung Senja (Bl Lokal)
11 parts Ongoing Cerita bl
Homophobic Dilarang Baca
Bagi kebanyakan orang, anak sulung itu yang paling tahu asam manisnya kehidupan orang tuanya sekaligus sebagai teladan bagi adik-adiknya.
Seperti lembayung senja, pemuda sederhana yang harus mengalah dengan kedua adik kembarnya andaru dan andari.
Ia mengingat saat awal bayung masuk smp, pada saat itu ia harus menahan kekecewaannya lagi.
"Ibu, uang buat awal semester bayung sudah di tagih terus sama ibu Jasmine" ucap lembayung dengan hati-hati, pada ibunya yang sedang berkutat didapur.
Ibunya yang bernama arumi menoleh, merasa bersalah.
"Uang simpanan ibu sudah habis, Le. Kemarin dipakai buat beli sepatu dan buku baru kedua adikmu"
Lembayung menghela napas berat, ia menelan kembali rasa getir dilidahnya. Ia beranjak Menghampiri bapaknya Mariadi, yang sedang mengasah sabit di teras.
"Pak, lembayung mau bayar awal semester, ibu jasmine udah nagih terus"
Mariadi tak menoleh, fokus pada ketajaman sabitnya.
"Maaf le, uangnya sudah tak kasih ke ibu semua. Batas waktunya kapan?"
"Satu minggu lagi pak, kalau telat bayung gak dapat seragam sekolah."
"Bapak usahakan ya le, yang penting peralatan sekolahmu sudah lengkap." ucapnya
Mariadi berlalu pergi, meninggalkan bayu yang hanya bisa menatap punggung bapaknya dengan pandangan sendu.
Tak ingin menyerah pada keadaan, Bayung kecil rela menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk membantu Bapak Pramono memipil jagung. Upahnya tak seberapa, hanya recehan yang ia kumpulkan dengan peluh. Namun, ketulusannya mengetuk hati sang Ibu yang akhirnya menambahkan sisa kekurangannya.
Begitulah awal pertama, ia akan masuk ke sekolah menengah pertamanya. Pola itu terus berulang. Mengalah, bekerja, dan menabung hingga ia menginjak bangku SMA.
Hingga akhirnya, takdir membawanya bertemu Bhanuresmi, kakak kelas sekaligus putra pemilik tambang emas terbesar dikotanya, dan mulai menaruh hati pada pemuda bernama lembayung senja itu.