Arvendra membaca kalimatnya berkali-kali, tapi isinya tetap sama: jika keadaan darurat, tim medis akan memprioritaskan keselamatan bayi. Tangannya gemetar saat memegang pena. Dia bukan dokter. Bukan Tuhan. Dia cuma suami yang berdiri di lorong dingin sambil berharap keajaiban. "Aku cuma mau mereka selamat," katanya pelan sebelum akhirnya menandatangani. Tangis bayi terdengar beberapa menit kemudian. Keras. Sehat. Penuh tenaga. Dan Arvendra menangis untuk pertama kalinya malam itu. Bukan karena bahagia. Tapi karena dia tahu suara yang lain tidak akan menyusul. Dokter keluar lagi. "Bayinya selamat, Pak." Kalimat itu seperti kabar baik yang kehilangan setengah maknanya. "Istri saya...?" tanya Arvendra, meski sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
More details