Rheana pernah percaya bahwa darah adalah ikatan paling suci namun kepercayaan itu runtuh ketika ayahnya sendiri menjadi dalang di balik tragedi yang merenggut ibunya-membiarkannya terbaring koma di rumah sakit, terperangkap di antara napas dan keabadian, sementara kebenaran dikubur di balik kekuasaan dan pengaruh.
Ketika keadilan manusia menutup mata, Rheana memilih jalan yang hanya berani ditempuh oleh mereka yang tak lagi takut kehilangan apa pun.
Ia menjadi bagian dari Bells-sebutan bagi para wanita yang mengikatkan diri pada Pangeran Kegelapan. Mereka bukan sekadar pengikut, melainkan persembahan hidup yang berani menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya.
Bagi Rheana, harga itu sepadan.
Dengan memasuki lingkaran Bells, ia menandatangani perjanjian tak tertulis: tubuhnya menjadi wadah kekuatan, jiwanya menjadi milik kegelapan. Sebagai balasan, ia dianugerahi kemampuan untuk melihat dosa yang tersembunyi, mengungkit rahasia yang terkubur, dan menjerat ayahnya dalam jaring kehancuran yang ia rajut sendiri-perlahan, kejam, dan tak terelakkan.
Namun Bells bukanlah tempat perlindungan. Setiap langkah Rheana di dunia bayangan menjauhkannya dari siapa dirinya dulu. Setiap perintah Pangeran Kegelapan menuntut kesetiaan yang lebih dalam, hingga batas antara dendam dan kehendak pribadi mulai kabur.
Karena sang Pangeran tidak hanya memberi kekuatan.
Ia menguji-apakah Rheana cukup kuat untuk membayar harga akhir dari balas dendamnya?
Wszelkie Prawa Zastrzeżone