My Evellyn Season 2

My Evellyn Season 2

  • WpView
    Reads 1,939
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 46
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2026
Evellyn tidak mengingat masa lalunya. Namun dunia mengingat siapa dirinya. Di tengah kota yang tampak tenang, retakan mulai muncul pada sesuatu yang seharusnya tetap tersegel. Orang orang yang berdiri di sisinya menyimpan sejarah yang tidak mereka ceritakan, sementara tubuhnya sendiri bereaksi terhadap bahaya yang tidak ia pahami. Ketika ingatan perlahan kembali, Evellyn dihadapkan pada sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: ada alasan mengapa masa lalu itu harus dilupakan. Dan jika segelnya benar benar hancur, dunia mungkin terpaksa mengingat kembali mimpi buruk yang hampir memusnahkannya.
All Rights Reserved
#128
brokenheart
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain's Mother

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines